CDSR ITB Menyelenggarakan International Conference on Renewable Energy and Sustainable Built Environment (ICRESBE) 2019

 

CDSR NEWS - Penelitian mengenai energi terbarukan dan pembangunan lingkungan berkelanjutan terus dilakukan oleh banyak peneliti. Dalam rangka menyediakan ruang bagi para peneliti untuk menyampaikan penelitian tentang tema-tema tersebut, Center for Development of Sustainable Region (CDSR) Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan International Conference on Renewable Energy and Sustainable Built Environment (ICRESBE) 2019 pada hari Sabtu, 14 September 2019 di Hotel Luxton, Bandung. Konferensi ini diharapkan dapat membangun jaringan antara akademisi, peneliti dan praktisi untuk mengembangkan pengetahuan tentang inovasi teknologi dalam energi terbarukan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia dan negara lain. Dengan tema “Renewable Energy and Sustainable Built Environment”, konferensi ini dirancang dengan enam topik yang dibagi menjadi beberapa sub topik yang dapat dikembangkan sesuai dengan konteks inovasi berdasarkan ide peserta konferensi. Enam topik tersebut adalah Renewable Energy and Application, Biorefinery, Building Energy Simulation, Net Zero Energy Building, Passive Design in Building serta Sustainable Matrix.

ICRESBE didukung penuh oleh USAID melalui program Sustainable Higher Education Research Alliances (SHERA). Konferensi ini dibuka oleh Ketua Panitia ICRESBE, Dr. Eng. Moch. Donny Kurniawan, S.T, M.T. Dalam sambutannya, Beliau yang juga merupakan Partnership Manager CDSR ITB menyampaikan bahwa tedapat 24 paper yang telah masuk ke conference, 23 paper diterima serta 21 paper teregistrasi untuk dipresentasikan.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi presentasi dari empat pembicara utama. Pembicara pertama adalah Dr. Rachmawan Budiarto yang berasal dari Pusat Studi Energi, Universitas Gadjah Mada sekaligus Director dan Partnership Manager CDSR. Presentasi Beliau berjudul “Towards Benefit Sustainability of Renewable Energy Use”. Dr. Rachmawan menceritakan program-program energi terbarukan di beberapa lokasi, mulai dari mikrohidro di daerah terpencil, PLTS di perkotaan, biogas untuk pedesaan, hingga turbin angin di daerah pesisir. Beliau menjelaskan bahwa tantangan untuk program energi terbarukan adalah keberlanjutan sistem. Terdapat tiga stakeholders yang penting dan saling berhubungan untuk keberlanjutan sistem energi terbarukan, yaitu: akademisi, komunitas dan pemerintah. Ketiganya harus bersinergi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kompleks yang terjadi di lapangan.

Presentasi kedua disampaikan oleh Prof. Misri Gozan tentang “Furfural and Levulinic Acid Mini Pilot Plant Biorefinery at Universitas Indonesia”. Prof. Misri menceritakan sekilas tentang kebutuhan furfural dan levulinic acid di berbagai industri yang selama ini didapat dari minyak bumi. Tim Biorefinery UI, telah melakukan penelitian terkait dua komponen ini dengan memanfaatkan tandan kelapa sawit kosong yang sudah tidak dapat dmanfaatkan di perkebunan kelapa sawit. Implementasi dari penelitian ini diharapkan mampu mengubah limbah menjadi sesuatu yang berharga untuk dijual di industri parfum, farmasi dan petrokimia.

Prof. Priyono Sutikno, ketua Pusat Penelitian Energi Baru dan Terbarukan (PPEBT), Institut Teknologi Bandung didapuk sebagai pembicara ketiga dengan judul paparan “Development of Renewable Energy Systems and Energy Storages: Renewable Energy Power Plant in Indonesia”. Materi paparan ini bercerita tentang masa depan sistem kelistrikan, teknologi yang akan kita gunakan serta tantangan dan dampak dari perkembangan teknologi. Di masa depan, akses terhadap energi terbarukan bukan lagi menjadi hal yang sulit kita lihat. Prof. Priyono juga menjelaskan bagaimana penelititan energy storage sudah dan sedang dilakukan oleh berbagai peneliti, baik di Indonesia maupun di dunia. Pada akhir paparannya, Prof. Priyono memberikan beberapa saran, yaitu: adanya komitmen dari semua pihak untuk mengembangkan energi terbarukan, adanya regulasi dan insentif untuk pengembangan energi terbarukan di daerah serta yang tak kalah penting adalah menyiapkan sumber daya manusia untuk pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Paparan terakhir oleh keynote speaker di acara ini disampaikan oleh Ir. Robby Dwiko Juliardi M.T., peneliti di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), Institut Teknologi Bandung. Judul paparan Beliau adalah “Green and Sustainable Awareness, Who Cares?” Pada paparan ini, Beliau menceritakan tentang green development dan green building rating tools serta kebijakan terkait yang ada di Indonesia. Jumlah profesional di bidang green building yang belum banyak, juga menjadi tantangan untuk mengembangkan green building di Indonesia. Paparan ini diakhiri dengan ajakan bahwa pengembangan green building di Indonesia harus didukung oleh semua aspek, mulai dari teknologi, kesadaran, pengetahuan dan peran dari masing-masing pemangku kepentingan.

Setelah paparan dari empat pembicara utama selesai, acara dilanjutkan dengan sesi presentasi paralel dari 21 paper yang telah dikirim. Peserta dibagi menjadi dua kelas sesuai dengan tema besar, yaitu: Renewable Energy dan Sustainable Built Environment. Masing-masing kelas terdapat 11 dan 10 peserta dari berbagai institusi, mulai dari ITS, Universitas Petra Surabaya, UGM, ITB hingga Universitas Lampung. Sesi presentasi paralel ditutup dengan pengumuman presenter terbaik di masing-masing kelas. Pada kelas Sustainable Built Environment, Bayu Ardianto dari UGM terpilih sebagai presenter terbaik. Sementara itu, presenter terbaik di kelas Renewable Energy adalah Muhammad Arief Ardiansyah dari ITB.


Leave a Comment