Training Course on Bioenergy, Biorefinery and Energy Efficiency

 

CDSR NEWS - Training Course on Bioenergy, Biorefinery and Energy Efficiency merupakan rangkaian keempat dari kegiatan training CDSR (Centre for Development of Sustainable Region). Training ini dilaksanakan sebagai lajutan dari “Training on Biorefinery and Microalgae” di Univesitas Indonesia, “Training on Research Methodology and Network Developing” di Universitas Bangka Belitung dan “Training of Academic Writing” di Universitas Muhammaiyah Gorontalo, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi CDSR, serta mendukung diversifikasi energi baru dan terbarukan di Indonesia. Sebagaimana yang tercantum pada Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, salah satu sasarannya adalah terwujudnya energi (primer) mix yang optimal pada tahun 2025, dimana target peranan biofuel terhadap konsumsi energi nasional menjadi lebih dari 5%, serta energi baru dan terbarukan lainnya, khususnya biomasa, nuklir, tenaga air skala kecil, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi lebih dari 5%. “Training Course on Bioenergy, Biorefinery and Energy Efficiency” dilaksanakan pada tanggal 4-6 April oleh Institut Pertanian Bogor sebagai tuan rumah penyelenggara. Kegiatan tersebut diikuti oleh 35 peneliti terdiri dari 21 perempuan dan 14 laki-laki, yang berasal dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Bangka Belitung, dan Universitas Muhammadiyah Gorontalo.

Kegiatan training dibuka secara resmi oleh Dr. Ir. Naresworo Nugroho, MS, selaku Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Fakultas Kehutanan IPB. Beliau menyampaikan bahwa IPB memiliki program Green Campus 2020 yang mendukung kegiatan-kegiatan di CDSR, khususnya pada pengembangan green energy. Dalam kesempatan ini, pihak swasta yang bergerak dalam sektor energi baru dan terbarukan juga turut dilibatkan.

Pada hari pertama, materi training difokuskan pada biorefinery berbasis mikroalga dengan judul “Konsep dan Implementasi Biorefineri Mikroalga”, yang disampaikan oleh Bapak Ganjar Saefurahman, S.Pi, M.Phil, peneliti dari Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) - LPPM IPB. Setelah pemberian materi, kegiatan dilajutkan dengan kunjungan ke laboratorium SBRC di Baranang Siang, Bogor, untuk melihat proses biorefinery dari mikroalga menjadi biofuel dan biomaterial. Pada hari kedua, materi training lebih difokuskan pada bioenergi berbasis biomassa hutan. Sebagai bekal untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam yang dijadikan bahan baku energi, maka diadakan materi mengenai “Life Cycle Assessment” yang disampaikan oleh Dr. Ir. Herdhata Agusta, M.Sc, dosen dari Fakutas Pertanian IPB. Beliau menyampaikan bahwa pengelolaan suatu sumber daya untuk pengembangan bioenergi maupun biomaterial haruslah efisien dengan menerapkan sistem produksi yang berkelanjutan. Untuk mempertajam pengetahuan, kegiatan dilajutkan dengan praktikum atau analisis perhitungan data produksi untuk mengevaluasi keefisiensian input dan output suatu sumber daya dengan menggunakan perangkat lunak. Materi training dilanjutkan dengan “Kebijakan Energi Baru dan Terbarukan” yang disampaikan langsung oleh Ir. Yunus Saefulhak, M.M., M.T., selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, di Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral. Beliau menyampaikan pontensi energi baru dan terbarukan di Indonesia serta program-program yang telah dan sedang dilakukan. Adapun untuk sektor bioenergi, terdapat program mandatori biodiesel 20%, biogas nasional, pengembangan bioenergi di sektor kehutanan dan pengembangan pembangkit listrik biomassa. Sejalan dengan program tersebut, dihadirkan pula Dr. Moon Heung Kyu, selaku R&D adviser dari PT Korintiga Hutani (KTH) yang mengembangkan wood-pellet dari biomassa berbasis hutan. Dalam materinya yang berjudul “Pengembangan E. pellita untuk Kayu, Biomassa dan Bioenergi di KTH”, Beliau menyampaikan bahwa jenis-jenis pohon yang potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku wood-pellet di KTH adalah pohon cepat tumbuh, yakni Acacia mangium, Eucalyptus pellita, dan Anthocephalus macrophyllus. Dalam pemaparannya, Beliau menyampaikan bahwa manajemen pembibitan dan aplikasi teknik silvikultur yang tepat merupakan kunci keberhasilan pengembangan bioenergi berbasis hutan.

Materi training pada hari ketiga lebih disampaikan oleh Dr. Gabriele Sartori, dari Australia-Indonesia Center sekaligus direktur dari Future Carbon Australia dengan topik efisiensi energi. Pembahasan yang disampaikan merupakan overview yang meliputi definisi, kebijakan yang diimplementasikan, serta contoh kasus di China dan India terkait peningkatan intensitas energi dalam ruang lingkup ekonomi. Untuk lebih spesifik, materi dilanjutkan dengan “Smart Meters, Grids, Appliances Enabling Flexibility Markets”. Beliau menjelaskan tentang smart grid dan smart meter serta aplikasinya dalam lingkup industri, bangunan dan tranportasi. Materi tersebut diharapkan dapat menjadi pengantar bagi manajemen yang lebih cerdas dari sisi permintaan dan penawaran suatu pasar energi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke perusahaan biogas, yakni PT. SWEN IT, yang berlokasi di Ciomas, Bogor. Perusahaan tersebut merupakan pelopor dalam merancang dan mengembangkan reaktor biogas berbahan serat kaca (fiberglass) dari sumber energi alternatif terbarukan yang berasal dari sektor pertanian dan peternakan.

Acara training kemudian ditutup oleh Bapak Jalu Cahyanto, selaku perwakilan dari USAID. Beliau menyampaikan harapannya terkait efisiensi energi agar dapat diaplikasikan pada skala kecil seperti rumah tangga dengan mencontoh praktek penggunaan bioenergi (mikroalga, biomassa dan biogas) yang disajikan selama training. Selain itu, diharapkan bagi seluruh partisipan yang tergabung dalam CDSR untuk dapat memproduksi penelitian dan publikasi terkait sektor energi sebagai implementasi nyata dari hasil training.


Leave a Comment